Pekanbaru Kota Bertuah (bukan) Kota Bersampah

Siapa yang tidak kenal dengan benda satu ini. Benda yang “katanya” busuk, bau dan selalu melekat image menjijikkan dan jorok ini. Sampah. Ya sampah, benda itu adalah sampah. Sekilas sampah bukanlah masalah jika dalam skala dan volume kecil. Hal yang  justru malah membuat kita seakan turut cuek dengan permasalah sampah yaitu paradigma “toh sudah ada petugas kebersihan yang bertanggung jawab untuk permasalahan sampah”. Ini suatu paradigma yang tidak benar. Berdasarkan Undang-undang No. 18 tahun 2008 pasal 12 ayat 1 berbunyi “Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan”. Sehingga dengan demikian setiap kita wajib turut serta dalam upaya penangan dan pengelolaan sampah.

Sampah pada jumlah sedikit hanya mengganggu pamandangan, setidaknya itu yang pertama kali tergambar di benak kita jika dihadapkan pada permasalahan sampah dan persoalannya. Padahal lebih dari itu akan banyak sekali pengaruh besar dan hebatnya dari efek yang disebabkan oleh permasalahan sampah. Tentu Kita semua masih ingat dengan istilah Bandung lautan sampah, suatu “malapetaka” yang disebabkan oleh longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leu-wi-gajah pada 21 Februari 2005 lalu. Kejadian ini menewaskan 143 warga dan mengubur 139 rumah. Tidak hanya itu permasalahan sampah juga sempat mengacaukan pariwisata di Bali. Majalah Times, sebuah media kaliber internasional pada 1 April 2011 juga sempat memberitakan “Liburan di Bali seperti Liburan di Neraka (Holiday in Hell)”. Hal yang disebabkan oleh penumpukan sampah di sebagian kota Bali, khususnya daerah pantai Kuta. Otomatis masalah ini sempat membuat Pemerintah Provinsi Bali kalang kabut karena masalah ini menjadi isu internasional yang mengancam pariwisata Bali ke depannya.  Bagaimana? Masih menganggap sampah merupakan permasalahan biasa? Riau dengan pekanbaru yang dikenal sebagai kota seribu ruko tentu sangat perpotensi untuk menghadapi problematika sampah juga tentunya. Nah lantas bagaimana cara penanggulangan sampah agar pekanbaru tetap kota bertuah bukan kota bersampah?

 

Start from Character Building

Ini merupakan cara paling efektif untuk menanggulangi permasalahan sampah yaitu dengan “pengkaderan” sedini mungin. Adapun yang dimaksud dengan pengkaderan yaitu menciptakan generasi-generasi muda yang peduli akan kelestarian dan fungsi lingkungan. Salah satunya yaitu peduli akan permasalahan sampah. Isu yang diangkat pun tak perlu terlalu berat. Dalam hal ini anak dididik sedini mungkin, mulai dari usia Kelompok bermain (Play Group), Taman kanak-kana (TK) hingga Sekolah dasar (SD). Tidak hanya itu keluarga juga mempunyai peranan yang sangat penting untuk membiasakan anak dalam “men-tradisikan” pola “Buang sampah pada tempatnya” yang dewasa ini seakan menjadi symbol kebersihan (saja) tanpa ada real action dari pembaca tulisan yang sebenarnya syarat makna tersebut. Dengan demikian akan muncul suatu kebiasaan yang merupakan efek dari sebuah kontinuitas yang telah dilakukan dalam jangka waktu tertentu sehingga dengan sendirinya akan menjadi gaya hidp (life style).

 

Menerapkan  Konsep 3R secara Kafah

Konsep satu ini tentu tidaklah asing lagi bagi Kita semua. Reduce, Reuse, Recycle (3R). Reduce adalah mengurangi jumlah pemakaian yang tidak terlalu penting sehingga volume sampah yang dihasilkan pun relative kecil. Reuse yaitu  mempergunakan kembali sampah yang tidak terurai  (Samplah plastik, pipet/sedotan, botol air minum dll), Recycle yaitu mendaur ulang sampah organik (daun, kertas, plastic dll). Dengan demikian akan membantu menunda waktu penumpukan sampah di TPA.

 

Mengadopsi Konsep Bank Sampah

Konsep satu ini telah diterapkan di Dusun Badegan, Bantul, Yogyakarta. Terdengar aneh dan unik memang begitu kali pertama kita mendengar kata “Bank Sampah” dan itu wajar. Pada umumnya yang ada dibenak Kita  begitu mendengar kata “Bank” pasti terbayang yang baik-baik saja, ntah itu ruangan ber-AC, dingin, bersih, wangi, aman dan bla la bla, tapi tidak sama dengan Bank yang satu ini. Bank Sampah Gemah ripah adalah nama Bank yang didirikan oleh masyarakat Badegan, bantul pada tahun 2008. Konsep ini pertama kali digagasi oleh Bambang Suwerda dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta yang rutin mengisi Pelatihan Pengelolaan Persampahan Berbasis Masyarakat di Center for Environmental Technology Study (CETS) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Sesuai namanya Bank ini melayani transaksi yang berhubungan dengan sampah, Nasabah tidaklah menabung uang, namun justru menabung sampah. Jadi prinsipnya setiap nasabah diberikan buku tabungan. Buku tersebut berfungsi untuk mencatat setiap transaksi yang dilakukan. Petugas Bank sampah akan mencatat jumlah tabungan sampah yang telah disimpan oleh sang Nasabah. Setiap 3 bulan sekali nasabah dapat mengambil hasil tabungannya yang telah di-uang-kan.

Bagaimana, Anda tertarik untuk memulainya? Silahkan memilih salah satu dari ketiga konsep penanggulangan sampah yang cocok dengan diri Anda. Lebih bijak jika Anda menerapkan ketiganya sekaligus demi pekanbaru kota bertuah bukan kota bersampah!. Riaupos edisi 28 Agustus 2011 (http://issuu.com/riaupos/docs/2011-08-21/35)