Penyelenggaraan Workshop Strategi Menghadapi Fenomena Perubahan Iklim

Pusat Studi Perubahan Iklim dan Kebencanaan (PuSPIK) Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia telah sukses menyelenggarakan workshop strategi menghadapi fenomena perubahan iklim. Kegiatan dilaksanakan tanggal 4 Oktober 2017 lalu di Aula Auditorium FPSB UII Jalan Kaliurang Km 14,5. Workshop tersebut mengundang tiga elemen penting dalam penanganan perubahan iklim khususnya di Indonesia, diantaranya dari pihak akademisi yang diwakili oleh Prof. Dr. Muh. Aris Marfai, M.Sc, dari praktisi yaitu perwakilan dari UNDP, Team Leader Disaster Risk Reduction based Rehabilitation & Reconstruction (DR4) , Rinto Andriono serta Institusi penting bidang perubahan iklim dan kebencanaan di Indonesia yaitu instansi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta.

Kegiatan dilatarbelakangi oleh fenomena perubahan iklim yang telah terjadi di Indonesia antara lain perubahan pola hujan dalam satu tahun, peningkatan frekuensi bencana klimatologis, dan dinamika lingkungan di wilayah pesisir. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak dari perubahan iklim di Indonesia yaitu melalui mitigasi dan atau adaptasi.

PuSPIK memandang hal tersebut sebagai sebuah peluang kedepan, baik dalam hal pengembangan riset serta bentuk pengabdian masyarakat. Para narasumber telah menyatakan berbagai gambaran kondisi, baik dari bidang ekonomi, kondisi actual, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kegiatan tanggap darurat yang saat ini terjadi di Indonesia. Perlu strategi yang handal dalam menangani dampak terhadap perubahan Iklim global.

Oleh karenanya, berdasarkan hasil kegiatan workshop tersebut, dirumuskan beberapa minutes meeting untuk pengembangan kegiatan PuSPIK secara internal maupun ekternal. Hal-hal tersebut diantaranya :
1) pelaksanaan penelitian terkait perubahan iklim dalam bidang persampahan di Indonesia, yang akan diinisiasi di wilayah DI Yogyakarta;
2) peningkatan kapasitas internal sumber daya manusia yang dalam hal ini keluarga besar Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia;
3) peningkatan frekuensi kegiatan pengabdian masyarakat khususnya di wilayah DI Yogyakarta yang pada umumnya rawan terhadap adanya bencana khususnya akibat perubahan iklim.