Krisis Air Bersih

Oleh: Widodo Brontowiyono

Banyak data menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas air bersih kita semakin terancam. Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) menginformaikan bahwa sekitar 3,7 persen dari semua kematian manusia di dunia disebabkan oleh penyakit yang berkaitan dengan air bersih. Bahkan, lebih dari setengah tempat tidur pasien di seluruh rumah sakit di dunia ini diisi oleh orang-orang yang menderita penyakit yang berkaitan dengan air. Sekjen PBB juga mengatakan bahwa lebih banyak penduduk dunia meninggal akibat air yang tak sehat ketimbang akibat segala bentuk kekerasan, termasuk perang. Informasi lain menyebutkan bahwa 1 dari 2 penduduk Indonesia mengalami krisis air bersih. Setiap hari kita mengalirkan jutaan ton limbah yang tidak diolah ke dalam system perairan sehingga air semakin kotor.
Disamping itu, pemanasan dan perubahan iklim global banyak dituding sebagai salah satu penyebab penting dalam terjadinya krisis air ini. Sirkulasi air secara global terpengaruh oleh adanya fenomena ini. Pola dan distribusi curah hujan sudah banyak berubah. Banjir besar di Australia dan Thailand beberapa waktu lalu adalah sebagai salah satu contoh riil. Perubahan pola curah hujan ini juga berimbas pada pola kekeringan secara global. Peningkatan suhu permukaan bumi juga menyebabkan menaiknya potensi penguapan air di permukaan tanah. Hal ini akan menyebabkan semakin cepat “hilang” nya air di permukaan tanah. Kalau banjir terjadi di musim penghujan masihlah wajar, tetapi kalau banjir terjadi di musim kemarau, sesuatu yang terasa aneh walau sudah ada faktanya. Demikian juga kesulitan air di musim kemarau adalah logis, tetapi kesulitan air di musim penghujan, sesuatu yang sepertinya aneh. Itulah akibat perubahan pola sirkulasi air yang terjadi secara global ataupun regional.
Ironisnya kondisi yang memprihatinkan ini kebanyakan menimpa warga masyarakat miskin. Air kotor tidak layak konsumsi menimbulkan berbagai macam penyakit seperti kolera, desentri, typus, hepatitis dan lain-lain. Kekeringan juga banyak menimpa warga kurang mampu baik secara ekonomi ataupun politik. Korban terparah dari ancaman krisis air bersih ini terutama anak-anak dan para ibu. PBB juga memprediksi bahwa pada tahun 2025 Indonesia adalah sebagai salah satu negara yang secara ekonomi akan mengalami ancaman serius dalam hal krisis air bersih ini.
Oleh karena itu menyeimbangkan eksploitasi air dan konservasinya, mutlak harus dilakukan. Upaya sekecil mungkin membuang limbah yang bisa mengotori air harus digalakkan secara serius. Penegakan hukum yang ketat kepada siapapun terutama industri agar mengelola limbahnya dengan baik. Pemanfaatan air harus sehemat mungkin. Pemanenan air hujan adalah salah satu kunci penting dalam menangani masalah ini. Beberapa warga saat ini masih kesulitan air walau sudah masuk musim penghujan. Kecilnya ukuran tandon air adalah salah satu kendala. Pemerintah bersama warga sebaiknya menghitung betul berapa kebutuhan riil air bersih per keluarga sehingga bisa menentukan ukuran optimum tandonnya. Kalau selama ini biaya konstruksi tandon air relatif mahal, maka bisa dipilih alternatif model konstruksi yang relatif lebih murah.
Kota Madinah pernah mengalami kesulitan air bersih, satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, sumur Raumah namanya. Kaum Muslimin terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut. Prihatin atas kondisi tersebut, Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Wahai saudaraku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkan untuk umat, maka akan mendapatkan surganya Allah SWT” (H.R.Muslim). Adalah Utsman bin Affan r.a. yang kemudian tergerak untuk membebaskan sumur itu. Akhirnya seluruh warga termasuk Yahudi bisa mendapatkan air bersih dengan mudah. Semoga kita bisa memaknai dari hadis tsb. (Penulis adalah dosen Teknik Lingkungan UII, pendiri PuSPIK-Pusat Studi Perubahan Iklim dan Kebencanaan, dan anggota MLH PWM DIY)