KONTROVERSI REDD + MASIH GENCAR

Reducing Emissions Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD +) adalah salahsatu upaya untuk mengurangi emisi karbon sekitar 20 % dari deforestasi dan degradasi hutan. Hal ini menyebabkan banyaknya prokontra antar masyarakat. Seperti halnya dikemukakan oleh  Ari Rompas, Direktur WAHLI Kalimantan Tengah, di Palangka Raya, Minggu (18/9/2011) yaitu “Pasalnya program REDD + masih banyak yang tidak terpantau dan terdaftar karena minimnya transparansi dari para developer proyek yang bersifat voluntary market seperti konsensi restorasi ekosistem. Dalam hal ini memang benar, tetapi ketika semua di kelola dengan baik dan adanya transparansi dari developer, target jangka panjang global, dukungan dana dan teknologi semakin membantu negri indonesia yang konon katanya salah satu penyumbang emisi karbon terbesar.

Berkaitan dengan pemanasan global yang mana mengakibatkan suhu dunia bergejolak semakin tinggi dan kutub utara semakin mencair, maka upaya inilah yang tepat untuk menjawab permasalahan yang ada. “Bersahabatlah dengan alam, maka alam akan bersahabat dengan kita”. Satuan Tugas Persiapan Pembentukan Kelembagaan REDD Plus memastikan, konsep REDD Plus yang akan dibawa dan ditawarkan Pemerintah Indonesia di pertemuan REDD Plus diCancun, Meksiko, 29 November nanti, akan selesai pada waktunya. Semoga dengan keputusan 29 November kelak, Keputusan yang didapat berdampak lebih baik untuk kenyamanan masyarakat Indonesia dengan konsekuensinya sesuai dalam Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.30/Menhut-II/2009 Tentang Tata Cara Pengurangan Emisi Dari Deforestasi Dan Degradasi Hutan (REDD) menjelaskan bahwa REDD adalah semua upaya pengelolaan hutan dalam rangka pencegahan dan atau pengurangan penurunan kuantitas tutupan hutan dan stok karbon yang dilakukan melalui berbagai kegiatan untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. (eva/red)