Emisi Karbon Dioksida dari Bahan Bakar Memasak di Yogyakarta

Aktivitas Manusia Meningkat, Kualitas Udara Menurun

Udara merupakan salah satu komponen kehidupan yang sangat penting bagi manusia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang diikuti dengan semakin beragamnya aktivitas manusia kualitas udara pun ikut turun karenanya. Hampir segala sektor dalam kehidupan, seperti transportasi, industri dan juga kegiatan permukiman berkontribusi pada penurunan kualitas udara. Beberapa kegiatan permukiman menghasilkan emisi gas yang dapat menurunkan kualitas udara. Salah satunya adalah kegiatan memasak dimana dalam kegiatan memasak menggunakan bahan bakar yang dapat menghasilkan emisi gas, diantaranya Volatile Organic Compounds (VOC). Emisi pembakaran bahan bakar memasak ini merupakan sumber utama penghasil VOC di atmosfer perkotaan (Cheng, S, dkk, 2016). Selain VOC, emisi yang dihasilkan dari kegiatan memasak adalah Gas Rumah Kaca  (Permadi dkk, 2017), dan masih banyak lagi. Gas Rumah Kaca sendiri memberi dampak buruk pada lingkungan. Salah satunya adalah perubahan iklim, yang mana menyebabkan presipitasi meningkat sampai 50% bahkan lebih sehingga meningkatkan potensi terjadinya banjir (Elizbarashvili dkk, 2017).

Karbondioksida, Emisi Utama GRK, Meningkat Bersama Populasi Manusia

Semakin meningkat jumlah penduduk maka semakin meningkat pula emisi gas rumah kaca, khususnya karbondioksida. Menurut Dhakal (2010), sumber utama emisi gas rumah kaca yang banyak dikaji adalah karbondioksida (CO2). Hal tersebut cukup beralasan, mengingat karbondioksida (CO2) merupakan salah satu gas yang banyak dihasilkan di wilayah perkotaan atau urban, terutama dari sektor rumah tangga. Data yang dihimpun dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sektor energi memberikan sumbangan terbesar gas rumah kaca, khususnya CO2 yang bersumber dari permukiman. Salah satu sumber aktivitasnya adalah dari penggunaan bahan bakar memasak.

Peningkatan emisi yang dihasilkan dari kegiatan memasak berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penduduk. Luas penggunaan lahan di Kota Yogyakarta yang didominasi oleh perumahan adalah 2.100,71 Ha dari total luas lahan Kota Yogyakarta yang seluas 3.250 Ha (Pemerintah Kota Yogyakarta, 2014). Semakin meningkat jumlah penduduk maka semakin besar lahan yang dipergunakan untuk perumahan/permukiman. Hal ini akan menyebabkan semakin besarnya kebutuhan penggunaan bahan bakar memasak.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), berkomitmen untuk melakukan penurunan emisi GRK sebesar 26% menggunakan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan internasional. Untuk mendukung program tersebut, maka selanjutnya PP No. 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Emisi GRK Nasional diterbitkan. Oleh karena itu, menjadi penting untuk dilakukan inventarisasi GRK guna mendukung rencana aksi nasional penurunan emisi GRK tersebut.

Penelitian Emisi Karbondioksida di Yogyakarta

Berangkat dari permasalahan tersebut maka salah satu mahasiswa Teknik Lingkungan UII melakukan penelitian untuk mendapatkan dan memetakan jejak karbon, yaitu emisi karbondioksida dari sektor permukiman. Penelitian dilakukan terhadap penggunaan bahan bakar memasak di Kota Yogyakarta menggunakan metode IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah Kota Yogyakarta dalam melakukan inventarisasi Gas Rumah Kaca.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya jejak karbon dari emisi karbondioksida dari sektor permukiman (penggunaan bahan bakar memasak) di Kota Yogyakarta yaitu sebesar 2911,70 ton CO2/tahun. Untuk data jumlah tangga terakhir yaitu pada tahun 2015. Berdasarkan hasil pemetaan, dapat diketahui bahwa dari 14 kecamatan ada:
– 3 kecamatan yang berada pada emisi skala sangat tinggi dengan 994 – 528 ton CO2/tahun,
– 3 kecamatan berada pada emisi skala tinggi dengan 528 – 166,5 ton CO2/tahun,
– 1 kecamatan berada pada skala emisi sedang dengan 95 ton CO2/tahun,
– 5 kecamatan berada pada skala rendah dengan 95- 34,46 ton CO2/tahun, dan
– 2 kecamatan berada pada skala sangat rendah dengan 34,46 – 20,811 ton CO2/tahun.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Universitas Islam Indonesia Vol. 9 No. 1 Tahun 2017 halaman 25-36. Publikasinya bisa dilihat di tautan ini.

Pemetaan Tingkat Emisi CO2 dari Penggunaan Bahan Bakar Memasak Rumah Tangga di Kota Yogyakarta

tulisan oleh Qorry Nugrahayu (dosen Teknik Lingkungan UII)