Delegasi AS “Belajar” Pengelolaan Sungai Code

Direktur DPPM UII (paling kanan) menyampaikan paparannya dihadapan delegasi profesional fellow dari USA, Pemerti Code, warga dan tokoh masyarakat Code, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, API Yogyakarta, dan mahasiswa KKN UII angkatan 44 di masjid As Salam, Cokrodiningratan 22/03/2012 dari USA

Direktur DPPM UII (paling kanan) menyampaikan paparannya dihadapan delegasi profesional fellow dari USA, Pemerti Code, warga dan tokoh masyarakat Code, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, API Yogyakarta, dan mahasiswa KKN UII angkatan 44 di masjid As Salam, Cokrodiningratan 22/03/2012 dari USA

Secara umum sungai yang masuk wilayah perkotaan di Indonesia selalu dipenuhi dengan permukiman penduduk yang padat. Kondisi ini disamping secara sosial rentan terhadap konflik, juga menimbulkan masalah lingkungan. Berbagai data menunjukkan bahwa kualitas air sungai begitu masuk perkotaan cenderung drop, menurun, karena limbah yang dibangun oleh masyarakat dan industri melebihi daya tampung sungai. Demikian disampaikan oleh Direktur DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UII, Dr. Ing Widodo Brontowiyono selaku nara sumber dalam acara diskusi antara delegasi professional fellows dari USA, Pemerti Code, Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, warga masyarakat sekitar Code, API Yogyakarta dan mahasiswa KKN UII angkatan 44, yang berlangsung di masjid As Salam, Cokrodiningratan, Yogyakarta, Kamis (22/03/2012).

Lebih lanjut Widodo Brontowiyono mengungkapkan, permasalah lain diantaranya adalah sampah, ruang terbuka hijau, status kepemilikan lahan, serta bantaran sungai yang rawan kena banjir. Demikian juga Sungai Code yang melintas di tengah Kota Yogyakarta. Sungai ini relatif kecil, tetapi permasalahannya sungguh kompleks. Sebenarnya sungai ini memiliki daya tarik yang luar biasa, tidak hanya masyarakat lokal Yogyakarta tetapi warga lain kota bahkan orang luar negeri.

Pada kesempatan tersebut, Widodo  Brontowiyono juga menyampaikan presentasi terkait pengembangan Sungai Code yang memiliki aspek lingkungan, social, dan ekonomi melalui upaya pengembangan wisata sungai. Peran perguruan tinggi dengan segala keberhasilan dan problemnya dalam pendampingan warga sungai baik melalui perencanaan bersama atau pengembangan  kapasitas publik dipaparkan oleh Direktur DPPM UII yang juga dosen Jurusan Teknik Lingkungan FTSP UII ini. Sedangkan Totok Pratopo menyampaikan sejarah perkembangan kesadaran masyarakat sehingga terbentuklah Pemerti Code yang sangat aktif dalam gerakan membangun kesadaran bersama dalam menjaga kualitas lingkungan dan kehidupan warga. Masalah kelembagaan juga disinggung oleh Widodo dan Totok. Keduanya sepakat bahwa kelembagaan pengelolaan sungai Code ini perlu diperkuat dan dipertegas lagi.

Direktur DPPM UII bersama mahasiswa KKN UII angkatan 44 berfoto bersama dengan 4 delegasi profesional fellow dari USA

Direktur DPPM UII bersama mahasiswa KKN UII angkatan 44 berfoto bersama dengan 4 delegasi profesional fellow dari USA

Menanggapi tentang kelembagaan ini, Matthew Joseph selaku Enviromental Coordinator di Ann Arbor Michigan mengatakan bahwa pengelolaan sungai di wilayahnya dilakukan oleh organisasi masyarakat, semacam NGO. Pemerintah sangat menghargai dan percaya pada NGO ini karena semua pengurusnya selalu terdiri dari orang-orang yang kredibel dan semua biaya ditanggung oleh masyarakat sendiri dalam upaya pengembangan organisasi dan kelembagaan. Sedangkan pemerintah yang melaksanakan apa yang direkomendasikan oleh warga masyarakat tadi.  Program “adopsi sungai” di Michigan merupakan program yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Program ini melibatkan warga yang mengadopsi sungai untuk selalu berbuat nyata dalam upaya pengelolaan sungai, misalnya kebersihan,  estetika, konservasi, dsb.

Wendy Rampson, selaku Planing Manager di kota Ann Arbor Michigan mengapresiasi apa yang telah dilakukan Pemerti Kali Code dan kampus khususnya UII. Ia menuturkan bahwa penanganan yang dilakukan sekarang sudah bagus. Ia juga membandingkan di Negaranya bahwa untuk menuju Kali yang bersih diperlukan waktu yang lama. “perlu minimal dua puluh tahun” paparnya.

Sally Palmi sebagai Assistant Public Work, Director Waste Management di Florida, menambahkan bahwa di Florida ada pembelian tanah di dekat sungai oleh pemerintah sehingga tanah di pinggir kali dapat dijadikan lahan publik. Sedangkan Sean H. McLendon, selaku Country comissioners di Florida mengatakan bahwa area pinggir sungai merupakan lahan publik. LSM di Florida terus mendorong pemerintah bahwa penanggulangan lahan Kali merupakan hal serius dan penting.

“Saling belajar antara dua bangsa yang berbeda kondisi dan kulturnya ternyata sangat menarik dan bisa saling mengisi”, ungkap Widodo mengakhiri diskusi. “Semoga bisa dilanjutkan pada tataran kegiatan yang lebih aplikatif”, ungkap Totok.

Pada kesempatan tersebut, empat delegasi dari USA juga mengadakan kunjungan ke Sungai Code untuk melihat dari dekat dan diskusi dengan stakeholder yang selama ini aktif menangani Sungai Code. Sebelum diskusi, para tamu delegasi USA masing-masing dua orang dari Michigan dan dua orang dari Florida telah diantar keliling sungai oleh Drs. Totok Pratopo, ketua Pemerti Code.  Para tamu menyaksikan mata air di tepi sungai yang dijadikan sebagai sumber air bersih warga. Kepadatan bangunan dan kehidupan social warga juga menjadi pengamatan yang serius bagi para tamu yang sedang ”belajar” mengelola sungai di Indonesia ini. Source: uii.ac.id